Suara deru mesin motor tua memecah keheningan dan sejuknya udara. Dengan sisa tenaganya, motor tua itu mengantarkan bapak berusia lebih dari tiga puluh lima tahun dengan putri kecilnya yang belum genap menginjak sepuluh tahun. Di hari libur sekolah, seminggu sekali di kesunyian malam sekitar 2 dini hari adalah waktu yang ditunggu putrinya. Diatas motor tua itu, disepanjang jalan menuju dermaga tempat bapaknya bekerja, dinginnya subuh dibelah oleh celotehan bocah kecil ingusan yang polos dengan tubuh kecil ringkihnya yang dibalut jaket kusut berwarna kusam milik bapaknya, usang namun cukup tebal dan menghangatkan.
Perjalanan itu dimulai dengan rapalan doa, sebuah jimat untuk meminta perlindungan dari yang maha kuasa untuk senantiasa dijaga dalam segala kuasa-Nya. Sederhana saja, hanya rapalan sholawat jibril, Al-Ikhlas, An-Nas, Al-Falaq dan Ayat Kursi. Bapaknya bukan termasuk alim ulama’ tapi cukup istiqomah mengamalkan ilmu-ilmu kecil nan sederhana yang diijazahkan gurunya kepadanya.
“Besok kalo besar jadilah orang bermanfaat” Ucapan bapak kepada bocah ingusan itu.
“Berarti harus pintar juga ya?” jawabnya penuh tanda tanya sambil tetap memeluk bapaknya agar tidak terjatuh karena angin yang kejar-kejaran dengan kecepatan motor tua.
“Berbeda, menjadi bermanfaat memang membutuhkan ilmu tapi banyak juga orang berilmu yang tidak bermanfaat, bukan tidak bisa tapi karena mereka tidak mau, sama halnya dengan ucapan Kiai diseberang sana, menjadi baik itu mudah, hanya diam saja maka yang tampak adalah kebaikan, namun menjadi bermanfaat itu susah karena butuh perjuangan” Jelasnya dengan nada lembut tapi cukup kencang karena bisingnya deru mesin motor tua.
Bocah kecil ingusan yang duduk dijok belakang bapaknya itu memang penuh mimpi dan ambisi. Di kepalanya, telah terpatri gambaran-gambaran tempat indah diberbagai belahan dunia untuk dia jelajahi, seolah-olah surga indah yang ada didunia itu bisa dengan mudah dia kunjungi dengan motor butut tua yang sedang ditumpangi. Wajar saja, hanya bocah kecil ingusan yang belum tahu cara dunia bekerja. Yang belum tahu bahwa uang, kekayaan dan kuasa bukan segalanya tapi segalanya membutuhkan uang, kekayaan dan kuasa.
Namun, bocah kecil ingusan itu kini berusia lebih dari dua puluh satu tahun, dia tumbuh dengan jiwa dan karakter yang masih sama, berani bermimpi dan penuh aksi. Ternyata obrolan-obrolan kecil saat bersama bapaknya di masa kecil itu telah membentuk karakternya yang percaya diri dan tidak takut akan kegagalan. Di benak kepalanya seakan tidak kenal kata takut, apa-apa dijajahinya. Tak takut dikecewakan oleh mimpi ataupun mewujudkannya dalam realisasi. Di kehidupan dewasanya, katanya. Badai menerpa segala angan dan mimpinya, jatuh berkali-kali, sakitnya tak terhitung dan lukanya belum sempat mengering sudah basah lagi diterkam oleh realita yang ada. Terkadang pertahanannya goyah namun masih tetap berdiri kokoh walaupun tidak mewah. Masih sama dengan mimpinya, dia tetap ingin menjadi petualang, menapaki surga-surga didunia yang dia dambakan dimasa kecilnya dengan harapan menjadi salah satu manusia bermanfaat diseberang sana.
Dia menatap gemuruh ombak yang bersihantam, aroma tanah selepas hujan masih menguar kuat dan tajam. Suasana itu membuatnya semakin terlarut dalam pikirannya. Ternyata hidup tidak semudah itu ya pak. Seperti pintamu, putrimu sudah mencoba menghabiskan segala jatah gagalnya, berkali-kali dan sudah terbiasa. Ternyata yang bapak maksudkan bukan keberhasilannya akan tetapi proses tumbuhnya jiwa karena kegagalan-kegagalan itu. Kini jiwanya terdidik, daya tahan dalam kehidupan terasah dan empatinya juga tumbuh.