Mari rayakan hal-hal kecil
yang menghadirkan mu di dunia,
mari rayakan bulan kelahiranmu
dengan riuh yang paling bisu,
seperti desir angin yang menyentuh daun
lalu pergi tanpa jejak.
Hari ini, tak ada kue, tak ada lilin,
hanya kenangan yang duduk manis
di sudut-sudut ingatan—
tentang tangis pertamamu
yang membelah sunyi
dan menjadikanmu nyata.
Mari kita rayakan,
bukan dengan tepuk tangan
atau nyanyian yang dilatih berulang,
tapi dengan sepi yang mengerti
betapa kehadiranmu
adalah nyawa bagi banyak tawa
dan bahkan luka yang kini belajar pulih.
Kau lahir bukan hanya dari rahim,
tapi juga dari doa-doa
yang menunggu waktu
untuk dikabulkan dalam bentuk manusia.
Bulan ini tak pernah sama,
semenjak namamu tertulis
di kalender semesta,
dan langit tiap malam
membisikkan hal yang tak bisa kusebut:
rindu, mungkin.
Atau harap yang belum padam.
Jadi, mari rayakan dengan pelukan diam,
dengan mata yang tak berkedip
menyaksikan waktu mengusapmu perlahan,
membentukmu menjadi seseorang
yang bahkan bayanganmu
masih bisa menghangatkan ruang kosong ini.
Selamat bertambah waktu,
selamat menjadi versi baru dari dirimu.
Di riuh yang paling bisu,
aku tetap merayakanmu—
sepenuh hati
yang tak pernah selesai.