Digitalisasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Gen Z. Generasi yang lahir dan tumbuh di era teknologi ini ditawarkan berbagai macam konten pembelajaran hingga hiburan yang dapat diakses dengan begitu mudahnya. Namun, akankah segala bentuk kemudahan itu menjadi sebuah peluang untuk mereka berkembang? Atau justru menjadi jebakan yang menyebabkan kebergantungan pada teknologi yang membuat segalanya menjadi serba instan? Di tengah segala kebimbangan ini, mereka selalu memiliki pilihan untuk memutuskan apakah digitalisasi bagi Gen Z merupakan sebuah jebakan atau sebuah peluang.
Hadirnya teknologi di masa kini memberi kesan bahwa segala hal dapat dicapai dengan begitu mudahnya. Bayangkan saja, beberapa tahun yang lalu proses produksi dapat memakan waktu yang lama. Tidak seperti saat ini ketika teknologi turut memainkan perannya di bidang industri. Dahulu, untuk mendapatkan sebuah informasi yang relevan harus melalui proses panjang mulai dari mencari buku di perpustakaan, membeli koran atau majalah terbaru, hingga bahkan harus datang langsung ke lokasi kejadian. Saat ini, semua proses panjang tersebut diwakili dengan hanya beberapa “click” di layar gawai yang dimiliki hampir seluruh Gen Z.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, Gen Z menjadi baris terdepan sebagai generasi yang paling terhubung dengan dunia digital. Menurut laporan We Are Social, rata-rata waktu yang dihabiskan oleh Gen Z dalam dunia maya mencapai 7-9 jam per hari, yang sebagian besar digunakan untuk berselancar di media sosial dan platform hiburan. Terlepas dari semua kemudahan yang ada, menurut saya, penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menyebabkan berkurangnya skill survive untuk mendapat informasi yang benar dan faktual, ketergantungan terhadap berbagai kemudahan yang ditawarkan hingga memungkinkan kehilangan koneksi terhadap dunia yang sesungguhnya. Dengan semakin mendalamnya integrasi teknologi dalam kehidupan mereka, menjadi penting untuk mempertanyakan apakah digitalisasi memberikan ruang untuk Gen Z berkembang, atau justru menjerat mereka dalam jebakan digital?
Digitalisasi sebagai Jebakan
Segala bentuk kemudahan yang ditawarkan di era digital tidak lantas menutup kemungkinan dari adanya dampak negatif yang diciptakan. Hal ini menjadi salah satu bentuk jebakan terhadap Gen Z. Ketergantungan terhadap teknologi sering kali mengarah pada perilaku adiktif seperti menghabiskan banyak waktu di media sosial hingga mengkonsumsi konten negatif berlebihan atau yang biasa disebut doom scrolling. Meski fenomena tersebut terjadi atas dasar mereka ingin menyiapkan bentuk pencegahan apabila kelak menghadapi situasi yang sama, hal tersebut mengakibatkan tidak sedikit dari Gen Z mengalami kecemasan berlebih, gangguan makan dan tidur, kehilangan motivasi, hingga panic attack.
Fenomena lain yang sering melanda Gen Z adalah Fear of Missing Out atau FOMO. FOMO adalah keadaan di mana seseorang tidak ingin merasa tertinggal terhadap sebuah trend atau hal viral yang sedang terjadi di masa itu. Hal tersebut dapat menyebabkan kecemasan hingga stress berkepanjangan apabila sampai melewatkan momen yang diikuti oleh sebagian besar warganet. Salah satu dampak yang ditimbulkan adalah adanya rasa ketidakpuasan terhadap diri sendiri bahkan menganggapnya tidak lebih baik dari orang lain.
Selain dua fenomena di atas, paparan informasi yang terus-menerus dapat menjadikan Gen Z rentan terhadap misinformasi yang dapat mengaburkan kemampuan berfikir kritis mereka. Lebih jauh lagi, interaksi tidak terbatas jarak dan waktu yang terjadi dalam media sosial dapat menciptakan ilusi koneksi, di mana interaksi virtual dianggap dapat menggantikan kehangatan interaksi di dunia nyata, yang pada akhirnya berpotensi mengisolasi mereka secara sosial. Banyaknya dampak negatif yang berakibat langsung pada kesehatan mental cukup menjadi pengingat bahwa selayaknya Gen Z dapat memanfaatkan teknologi dengan bijak.
Digitalisasi sebagai Peluang
Meski dengan tetap mewaspadai kemungkinan buruk yang dapat ditimbulkan oleh adanya teknologi, tidak serta merta membuat kita menutup mata atas banyaknya dampak positif dari perkembangan era digital. Digitalisasi membuka peluang tak terbatas bagi Gen Z untuk belajar, berinovasi, dan memberikan inspirasi positif bagi dunia. Dengan teknologi, mereka memiliki akses terhadap sumber belajar yang sebelumnya sulit dijangkau, seperti kursus secara daring, video edukasi, bahkan komunitas pengembangan diri. Selain itu, dunia digital menjadi ruang untuk Gen Z mengekspresikan kreativitas baik melalui konten media sosial, karya seni digital, maupun inovasi teknologi.
Di era yang terus berkembang ini, tentunya Gen Z juga harus menyiapkan diri untuk beradaptasi terhadap berbagai macam pembaharuan yang ada. Seiring dengan mempelajari dan menguasai teknologi yang up to date, teknologi juga
dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk membantu mengembangkan potensi yang sedari awal sudah dimiliki maupun yang baru ingin dieksplorasi. Transformasi teknologi juga menciptakan lapangan kerja baru seperti content creator, developer, atau social media strategist yang dapat menjadi jalan bagi Gen Z untuk meraih kesuksesan.
Dalam konteks sosial, teknologi juga mampu memberdayakan Gen Z untuk memperjuangkan isu-isu yang sedang terjadi, seperti kebebasan untuk Palestina atau penolakan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang terjadi akhir-akhir ini melalui kampanye yang dapat menjangkau audiens lintas kota bahkan negara. Banyaknya content creator yang hadir sebagai educator, penyuara kebijakan politik, dan berbagai macam potensi yang ditampilkan juga telah menunjukkan sisi positif perkembangan digitalisasi apabila diaplikasikan dengan baik dan dapat menjadikan Gen Z sebagai pemimpin perubahan (Agent of Change).
Dari Ketergantungan menjadi Kekuatan Perubahan
Teknologi layaknya pisau bermata dua bagi Gen Z. Apabila dipergunakan dengan bijak, era digitalisasi layaknya landasan untuk membawa mereka terbang mengeksplorasi dunia. Namun sebaliknya, apabila disalahgunakan, teknologi ibarat lumpur hisap yang akan membuat mereka semakin tenggelam. Lantas bagaimana cara agar Gen Z tidak bergantung pada teknologi secara berlebihan, serta dapat mengaplikasikannya sebagai kekuatan menuju perubahan?
Pertama, penting untuk membangun dan menekankan literasi digital. Dengan demikian, Gen Z dapat memiliki kemampuan untuk mempergunakan teknologi secara efektif, aman, dan bertanggungjawab. Literasi digital juga termasuk kemampuan mencari, mendapatkan, mengelola, serta memanfaatkan informasi yang didapatkan dengan bijak dan tetap patuh pada hukum yang berlaku. Berdasarkan data dari Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo), terdapat empat pilar dalam literasi digital, di antaranya adalah Cakap Bermedia Digital, Budaya Bermedia Digital, Aman Bermedia Digital, dan Etis Bermedia Digital. Empat pilar tersebut apabila diterapkan dengan benar, maka dapat dijadikan amunisi untuk menghadapi jebakan serta peluang dalam era digital yang semakin kompleks.
Cara selanjutnya adalah mengatur waktu yang akan digunakan dalam jangka waktu tertentu. Di tengah arus informasi yang semakin cepat ini, adanya distraksi dapat menyita waktu Gen Z untuk melakukan hal-hal yang lebih produktif. Oleh karena itu, perlu adanya time management yang baik agar mereka mampu
mengelola teknologi menjadi hal yang bermanfaat. Caranya bisa dengan membuat to do list kegiatan yang akan dilakukan pada hari tersebut dan menerapkan batasan waktu screen time. Apabila memang diperlukan untuk mencari inspirasi melalui sosial media, penting untuk membuat bonding atau batasan dalam penggunaannya serta menerapkan kemampuan literasi digital yang sudah dipaparkan sebelumnya agar tidak ada waktu yang terbuang sia-sia.
Kemudian, menyadari bahwa teknologi membuat jarak dan waktu seperti tak kasat mata. Gen Z dapat memanfaatkan sosial media sebagai sarana untuk membangun personal branding. Mereka dapat menunjukkan bakat dan potensi yang dimilikinya kepada warganet secara luas. Hal ini penting karena di zaman yang serba canggih ini, media sosial dapat membantu mereka untuk membangun reputasi hingga koneksi, bahkan membuka peluang untuk ke jenjang karir selanjutnya. Saat ini, banyak ditemukan Influencer dari segala macam profesi yang menginspirasi dan mempengaruhi banyak orang untuk mengikuti rekam jejaknya yang positif, bahkan hingga mampu membuat mereka tergerak untuk mengikuti aksi-aksi sosial yang bermanfaat. Tentunya, ini merupakan contoh nyata bahwa Gen Z sebenarnya mampu untuk menjadi pemimpin perubahan.
And last, but not least. Gen Z harus peduli dan menyayangi diri sendiri dengan cara menyeimbangkan antara kehidupan dunia nyata dan dunia maya. Gen Z dapat menerapkan digital detox, yakni tidak mengaktifkan perangkat digital selama beberapa waktu dalam seminggu. Gunakan waktu yang ada untuk melakukan aktivitas atau hobi yang dapat dilakukan tanpa bantuan teknologi. Dengan begitu, Gen Z dapat mereset pikiran dan merasakan jiwa yang tenang tanpa ada gangguan. Selain itu, hal tersebut juga membantu untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi. Lakukan juga refleksi maupun evaluasi untuk melihat sudah sejauh mana diri berkembang, serta untuk memperbaiki apa saja aktivitas yang belum dijalankan secara optimal.
Tentunya masih banyak cara lain yang dapat diterapkan. Namun saya percaya, Gen Z merupakan generasi yang memiliki pemikiran kritis. Mereka dipenuhi dengan idealis yang tercipta dari apa yang ia temui dan pelajari setiap harinya. Namun demikian, saya berharap Gen Z tidak abai begitu saja terhadap nasihat yang bisa saja datang dari generasi manapun. Meskipun terdengar tidak nyaman di awal, percayalah bahwa ada yang namanya Intergenerational Learning atau nilai-nilai hidup yang memang berjalan selamanya. Saat ini, coba fikirkan dan renungi kembali. Apakah teknologi merupakan sebuah jebakan, atau justru peluang untuk menuju perubahan?