Sore itu langit mulai berubah warna. Matahari perlahan turun di balik gedung-gedung kampus, meninggalkan cahaya jingga yang lembut. Angin bertiup pelan, membuat suasana terasa lebih tenang setelah seharian penuh dengan kegiatan.
Di sebuah bangku panjang dekat taman kampus, dua sahabat sedang duduk santai. Mereka adalah Agil dan Atho’.
Agil memandangi langit sambil memutar botol minuman di tangannya. Sementara Atho’ duduk dengan santai, tasnya masih menggantung di pundak.
“Hari ini capek juga ya,” kata Agil sambil menarik napas panjang.
Atho’ tersenyum kecil. “Capek sih, tapi ya begitulah kehidupan mahasiswa.”
Sejak pagi mereka sudah mengikuti beberapa kelas. Belum lagi tugas yang terus datang, seolah tidak pernah benar-benar selesai. Kadang mereka sendiri heran, kapan sebenarnya mahasiswa punya waktu untuk benar-benar santai.
Beberapa saat mereka hanya duduk diam, menikmati suasana sore.
“Tahu nggak, Gil,” kata Atho’ tiba-tiba, “kadang aku merasa kita ini terlalu sibuk mengejar banyak hal.”
Agil menoleh. “Maksudnya?”
“Ya kuliah, nilai, organisasi, rencana masa depan. Semua ingin kita capai. Tapi kadang kita lupa menikmati prosesnya.”
Agil tersenyum tipis. “Tumben kamu ngomongnya dalam banget.” Atho’ tertawa kecil. “Bukan dalam, cuma lagi banyak pikiran.”
Angin sore kembali berhembus. Beberapa mahasiswa terlihat berjalan melewati taman sambil bercanda dengan teman-temannya.
Agil memperhatikan mereka sebentar.
“Kamu pernah nggak takut sama masa depan?” tanya Agil pelan. Atho’ berpikir sejenak sebelum menjawab.
“Pernah. Bahkan sering.” Ia lalu tersenyum kecil.
“Tapi kalau terus dipikirin juga nggak ada habisnya.”
Agil mengangguk pelan.
“Kadang aku takut setelah lulus nanti aku nggak jadi apa-apa,” katanya jujur. Atho’ menepuk bahu sahabatnya itu.
“Tenang saja. Hidup itu nggak selalu langsung jelas arahnya.” Agil menoleh penasaran.
“Maksudnya?”
Atho’ melihat langit yang mulai gelap.
“Kadang kita cuma perlu terus berjalan. Pelan-pelan saja. Nanti juga kita akan menemukan jalannya sendiri.”
Kalimat itu sederhana, tapi terasa menenangkan.
Beberapa menit berlalu. Matahari hampir tenggelam sepenuhnya. Lampu taman mulai menyala satu per satu.
Agil berdiri sambil merapikan tasnya.
“Yuk pulang. Kalau terlalu lama di sini, kita bisa lupa masih punya tugas.” Atho’ ikut berdiri.
“Benar juga. Dosen pasti nggak peduli kita lagi menikmati senja.” Mereka pun tertawa bersama.
Saat berjalan meninggalkan taman, Agil merasa pikirannya sedikit lebih ringan.
Kadang, yang kita butuhkan bukanlah jawaban besar tentang masa depan. Kadang kita hanya butuh percakapan sederhana dengan seorang sahabat yang membuat kita merasa tidak sendirian.
Dan sore itu, di ujung senja yang tenang, Agil dan Atho’ belajar satu hal sederhana: hidup tidak harus selalu terburu-buru. Yang penting tetap berjalan, sedikit demi sedikit.